Desain Guiding Stick, ITB Raih Grand Prize pada Ajang Internasional i-CAPS

Desain Guiding Stick, ITB Raih Grand Prize pada Ajang Internasional i-CAPS

Desain Guiding Stick, ITB Raih Grand Prize pada Ajang Internasional i-CAPS

Rumanda Engala Kapisa (Teknik Mesin, 2015), Dwi Astuti

(Teknik Fisika, 2015), dan Slamet Zarkasih (Arsitektur, 2015) sukses meraih penghargaan Grand Prize dalam kompetisi International Student Joint Capstone Design Project (i-CAPS) dan International Student Multidisciplinary Design Camp (d-CAMP) yang diselenggarakan dari bulan Januari hingga bulan Oktober 2019.

Pada kompetisi ini mereka bersama dua anggota lainnya yang berasal dari Kwangwoon University ditantang untuk bekerja sama dalam mendesain produk inovasi yang menjawab permasalahan Taiwan.

“Hari pertama kegiatan, kami dibawa jalan-jalan di sekitar Taiwan

dan diminta untuk mencari pemasalahan yang ada. Dari kegiatan (hari pertama ini) kami mencari solusi dari permasalahan yang ada dalam bentuk engineering solution,” ujar Daeng, sapaan akrab Rumanda Engala, dalam rilis Humas ITB yang diterima Reaksi, Rabu (13/2).
Dalam waktu yang relatif singkat dan latar belakang keilmuan yang berbeda setiap anggota, tim Daeng dkk. berhasil mengembangkan produk Guiding Stick yang merupakan suatu alat multifungsi yang dapat digunakan sebagai penerjemah, penuntun jalan dengan roda, dan fitur tambahan berupa tongsis (tongkat narsis).

Dipilihnya desain berbentuk tongkat ini agar alat ini juga bisa digunakan kaum disabilitas. Trotoar di Taiwan belum dilengkapi dengan penanda jalan bagi kaum disabilitas seperti trotoar di jalan-jalan besar di Indonesia. Sehingga pada saat berjalan diatas trotoar menjadi sulit karena harus ada pendamping atau meraba-raba jalan.

Alat ini dinilai efektif untuk kaum disabilitas jika berjalan sendirian diatas trotoar

karena dengan Guiding Stick ini pengguna dituntun dengan adanya fitur roda pada alat. Fitur roda ini diatur menggunakan motor agar menyesuaikan kecepatan normal manusia.

Daeng menuturkan bahwa permasalajan lain yang diangkat oleh timnya yaitu sulitnya turis untuk membaca petunjuk jalan. Sebab tulisan informasi dan petunjuk jalan di Taiwan hanya ditulis dengan alfabet Cina, ini menyulitkan turis asing mancanegara yang mayoritas tidak mengerti alfabet Cina. Karena itu merancang alat penerjemah yang mampu membaca tulisan alfabet tersebut dengan bantuan kamera.

Selain itu, turis sulit untuk mengandalkan aplikasi maps dengan pertimbangan kurang nyaman dan berbahaya jika digunakan saat berjalanan di sekitar Taiwan. Ditambah lagi jika menggunakan gawai, saat di persimpangan jalan mereka harus berhenti terlebih dahulu untuk mengecek rute selanjutnya.

 

Baca Juga :