DIMENSI-DIMENSI PERSEPSI

Table of Contents

DIMENSI-DIMENSI PERSEPSI

DIMENSI-DIMENSI PERSEPSI

1. Dimensi fisik (mengatur/mengorganisasi)
2. Dimensi psikologis (menafsirkan)
Kedua dimensi ini secara bersama-sama bertanggung jawab atas hasil-hasil  persepsi, sehingga pengertian  tentangnya  akan memberi gambaran tentang bagaimana persepsi terjadi.

1. Dimensi Persepsi secara fisik:
Sekalipun  dimensi  fisik ini merupakan  tahap  penting dari  persepsi,  tetapi untuk tujuan kita  mempelajari  KAB,hanya merupakan tahap permulaan dan tidak berapa perlu untuk terlalu didalami. Dimensi ini menggambarkan perolehan kita akan informasi tentang dunia luar. Tahap permulaan ini mencakup karakteristik-karakteristik stimulasi yang berupa energi, hakekat  dan fungsi mekanisme penerimaan manusia (mata, telinga,  hidung, mulut dan kulit) serta transmisi data melalui sistem  syaraf menuju  otak,  untuk kemudian diubah ke  dalam  bentuk  yang bermakna. Bagaimana  bekerjanya badan manusia pada  tingkah/tahap ini dapat dikatakan sama antara orang dengan orang dan antara  satu kebudayaan dengan yang lain. Setiap orang pada  dasarnya  mempunyai mekanisme-mekanisme anatomik dan  biologikyang sama, yang menghubungkan mereka dengan lingkungannya.

2. Dimensi Persepsi secara Psikologis :
Dibandingkan   dengan penanganan stimuli  secara  fisik tadi, keadaan individual (kepribadian, kecerdasan, pendidikan, emosi, keyakinan, nilai, sikap, motivasi dan sebagainya) mempunyai  dampak yang jauh lebih menentukan  pada  persepsi tentang lingkungan dan perilaku- Dalam tahap inilah  manusia menciptakan  struktur, stabilitas dan makna  bagi  persepsi-persepsinya dan memberikan sifat yang pribadi serta penafsiran mengenai dunia luar.

1. SELECTIVE PERSEPTION
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita menerima begitu banyak pesan masukan/data/stimulasi. Misalnya : sambil membaca, selain data kata-kata yang terdapat dalam buku, data lain’berupa suhu ruangan, rasanya kursi yang diduduki,suara air menetes di kamar mandi, suara anak menangis, rasa permen yang dikunyah, bau rokok dan lain-lain juga menghujani kita. Semua data ini secara bersamaan menunggu untuk diproses, untuk diberi makna. Tetapi kemampuan manusia terbatas, sehingga terpaksa menseleksi beberapa saja di antaranya untuk diperhatikan dan mengabaikan yang lain. Dengan kata lain kita harus selektif. Seleksi ini biasanya dilakukan secara tidak sadar dalam waktu seperberapa detik saja. Keputusan yang kita ambil dalam menseleksi data yang akan diberi makna secara langsung berhubungan dengan kebudayaan kita. Selama hidup kita telah belajar, baik sebagai individu-individu maupun sebagai anggota-anggota dari kebudayaan tertentu, yang penting untuk diperhatikan. Ini yang disebut sebagai pengaruh kebudayaan pada hasil proses persepsi. Karena selektivitas ini merupakan bagian yang demikian penting dari persepsi, maka kita akan meninjau tiga cara yang saling berkaitan, dengan mana kita secara selektif mempersepsikan dunia sekeliling

2. SELECTIVE EXPOSURE
Kita seringkali menghindar untuk mempersepsikan aspek-aspek tertentu dari lingkungan dengan cara tidak menempatkan diri dalam posisi yang memungkinkan untuk menghadapinya (selective non exposure). Demikian pula, kita bisa dengan secara sengaja mencari situasi-situasi yang memudahkan untuk mempersepsikan beberapa hal tertentu (selective exposure).
Contoh:
Orang-orang yang baru membeli mobil, cenderung membaca iklan mengenai mobil tersebut daripada ikian tentang mobil-mobil lain yang tadinya mau dibeli tapi tidak jadi. Mereka mencari informasi yang dapat member! penguatan atas keputusan mereka. Contoh penghindaran selektif bisa kita cari dari pengalaman sendiri. Jika kita dapat mengira-kira bahwa seseorang akan menimbulkan kesulitan atau situasi yang tidak enak bagi kita, maka sebelumnya kita lebih baik menghindar.

3. SELECTIVE ATTENTION
Pada saat tertentu dan pada lingkungan tertentu manapun, kita hanya dapat menaruh perhatian pada beberapa macam informasi saja, karena lingkungan terlalu luas dan kompleks bagi  kita untuk dapat memusatkan perhatian pada  segalanya. Meskipun  nampaknya  kita dapat  sekaligus  secara  simultan memperhatikan  banyak  hal, tetapi sesungguhnya  kita hanya dapat melakukannya secara sadar satu persatu. Apa yang  terjadi ialah kita dapat secara sangat cepat mengalihkan perhatian  pada  yang lain-lain. Kemampuan cepat  ini  memberikan gambaran palsu tentang perha’tian yang simultan.

4. SELECTIVE RETENTION
Beberapa informasi, walaupun telah dipersepsikan dan diproses, kemudian terlupakan, karena kita tidak dapat mempertahankan atau menyimpan semua. Pada umumnya, informasi yang kita simpan dalam ingatan adalah yang menyenangkan, menunjang bayangan-bayangan baik tentang diri sendiri, atau yang dirasakan perlunya untuk digunakan dibelakang hari.
Contoh : kita akan tetap mengenang orang-orang yang kita sukai/cintai/ada minat khusus.

Sumber : https://anchorstates.net/