sektor perekonomian dapat menciptakan peluang

sektor perekonomian dapat menciptakan peluang

sektor perekonomian dapat menciptakan peluang

1.SEKTOR PERTANIAN DAN PETERNAKAN

Ditinjau dari Negara kita yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah dan kesuburan tanahnya, sektor pertanian dan peternakan adalah peluang bisnis dapat dilakukan dengan modal kecil dan tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi,hanya saja memerlukan keuletan,rajin,terampil,cakap mencari relasi usaha dan harus banyak mencari ilmu-ilmu untuk tuntunan berwirausaha.
Contoh : budidaya jamur, budidaya tanaman hias, budidaya ikan.

2.SEKTOR INDUSTRI KECIL/HOME INDUSTRY MAKANAN DAN KERAJINAN

Ditinjau dari jumlah penduduk kita yang banyak, maka peluang bisnis industry kecil makanan dan kerajinan juga berprospek baik selain itu,dapat menciptakan lapangan kerja juga.tetapi modal yang diperlukan lumayan besar,alat-alat yang digunakan harganya mahal dan juga harus teliti,cermat dalam menjaga kualitas produk agar dapat bersaing dipasaran.

Contoh :

kerajinan rotan, home industry aneka roti

Kira-kira berapa sih jumlah warga Purworejo yang menyebar dan bermukim di wilayah Jabodetabek?” tanyaku pada Mas Haryono.

Lelaki berumur hampir lima puluh tahun ini adalah Ketua Paguyuban Warga Desa Kesambi, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Dia dipilih karena cukup matang, ringan tangan, dan komunikatif. Yang bersangkutan sudah sejak muda atau sejak lulus SMA meninggalkan desanya untuk merantau ke ibukota. Kini, ia telah bekerja dan berkeluarga serta bertempat tinggal di Bekasi.

“Ada sekitar lima belas ribu orang pak,” jawabnya meyakinkan.

Mendengar jumlahnya yang cukup banyak, bibir saya berdecak kagum. Tanpa sadar kepala saya terus menggeleng tanda setengah tak percaya. “Enggak menyangka angkanya sebanyak itu, ya pak,” timpalnya sambil mengumbar senyum.

Penasaran dengan jumlah yang disebutkan, saya tanyakan lagi apa yang menjadi latar belakang warga Purworejo itu berbondong-bondong merantau ke DKI Jakarta atau tersebar di wilayah Jabodetabek. Sekali lagi Mas Haryono tersenyum. “Mereka mencari peluang kerja di ibukota, pak. Mengadu nasib untuk perbaikan taraf hidup.

“Memang di desa enggak ada yang bisa dijadikan sandaran hidup? Apalagi sekarang, dana pembangunan desa mulai mengucur. Sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa,” tanyaku memancing.

“Iya, bagaimana ya pak? Saat itu kondisinya memang sedang susah dan Dana Desa belum semasif sekarang. Untuk mencari makan saja susah, apalagi untuk kebutuhan lainnya. Di Ibukota, serba ada dan menjanjikan semuanya,” jelasnya.

Mendengarnya, saya sepertinya harus memaklumi dan tidak menyalahkan mereka. Buat mereka, Ibukota adalah surga kehidupan yang menghipnotis dan menyedot niat mereka untuk mengadu nasibnya. Tak peduli apakah mereka memiliki bekal pendidikan, pengalaman, dan keahlian yang memadai. Yang penting punya niat, nyali, dan bekal untuk berangkat, meskipun pas-pasan. Apalagi ada ajakan temannya yang telah sukses duluan di ibukota. Saat lebaran Idul Fitri atau lebaran qurban misalnya, teman-teman mereka sudah mengantongi kabar gembira berupa peluang kerja.

Dengan informasi peluang tersebut, mereka seperti terhipnotis untuk hijrah ke Ibukota. Bagi yang telah mengeyam pendidikan memadai, mungkin mereka sudah menyiapkan rencana sejak lama. Baginya, idealisme dan cita-cita mereka sejak awal adalah mengadu nasib di Ibukota dan bekerja setelah lulus sekolah atau kuliah.

Makna Sebuah Desa

Kenapa ingin mengadu nasib di ibukota? Apakah makna desa asal bagi mereka? Ada beberapa makna. Pertama, desa adalah “kawah candradimuka” yang akan menggodog dan menempa mereka menjadi warga yang tahan banting, kreatif, dan berinisiatif. Warga yang kreatif berarti mereka memiliki semangat untuk bertahan dan ingin membangun desanya agar lebih menjanjikan. Bekal kreativitas akan menjadi kunci yang sangat menentukan tingkat keberhasilannya. Sementara warga yang berinisiatif adalah mereka yang benar-benar berniat meninggalkan desanya untuk mengadu nasib di belantara ibu kota. Meskipun berbeda makna dan tujuannya, namun keduanya ingin menciptakan dan memperoleh peluang kesuksesan yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Makna kedua, desa bagi mereka adalah etalase ekonomi pinggiran desa asal yang akan memajang keberhasilannya dalam menundukkan Ibukota. Desa adalah “etalase” yang menampilkan “legasi”-nya bahwa ia telah sukses dan berhasil dalam mengarungi karier dan taraf hidupnya di Ibukota. Sebagai etalase, tentunya akan menjadi patokan, standar, atau ukuran keberhasilannya sebagai apa, menjadi apa, dan menjadi siapa di Ibukota. Selain menjadi etalase keberhasilan, desa atau daerah asal mereka juga menjadi “kotak wayang” yang akan menjadi pilihan akhir para warga yang kembali lagi ke desa atau daerah asalnya karena sudah menyerah kalah tak bisa bertahan menundukkan pergulatan nasib di Ibukota, maupun warganya yang sudah pensiun dan ingin menikmati masa tua dengan tenang.

Makna ketiga, desa asal tempat tinggal mereka seolah olah adalah tempat “penampungan sementara”, yaitu tempat yang membesarkan mereka di masa kanak-kanak. Mereka yang kini meninggalkan daerah asalnya, setelah dewasa sepertinya terlena dan tidak terpikir untuk membangun dan meningkatkan ekonomi desanya menjadi wilayah yang memiliki prospek dan peluang menjanjikan serta masa depan. Apalagi, desa memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah.

Harus ada perubahan paradigma dan inisiatif untuk membangkitkan semangat dan idealisme para warganya, terutama kaum mudanya untuk membangun desa asalnya. Perubahan dan inisiatif membangun desa asalnya ini harus tumbuh dari kalangan anak muda atau kaum milenial yang bertindak sebagai agent of change.

Menilik kondisi dan pengalaman di atas, kendala sekaligus pemecahannya adalah bagaimana mengembangkan dan membangun ekonomi pinggiran di desa asalnya? Agar warga desa khususnya kaum mudanya tidak menjadi warga kelas dua karena tidak ada peluang usaha yang dapat menjamin masa depan maupun kesejahteraannya. Meskipun kita sadar, beberapa tahun silam banyak kaum muda yang belum memiliki idealisme membangun ekonomi di daerah asalnya. Mereka masih beranggapan jika desa tidak banyak memberi peluang dan tantangan.

Baginya, desa adalah pelabuhan terakhir untuk ditinggali saat pensiun nanti. Kultur ini menjadi alasan pembenar karena di desa hanya ada sepi, anak-anak, dan orang tua. Pola pikir ini sudah harus digeser seiring dengan kemajuan zaman yang menuntut partisipasi semua pihak.

Saat ini, dibutuhkan peran kaum muda milenial yang kreatif dan berpikiran maju. Mereka yang memandang desa sudah bukan lagi tempat terpencil yang identik dengan kemiskinan, keterbatasan peluang kerja, dan lain sebagainya. Kenapa? Karena kini desa justru memiliki dan menjanjikan banyak peluang usaha yang luar biasa. Perkembangan teknologi komunikasi terutama jaringan internet misalnya, adalah salah satu kekuatan yang menciptakan banyak peluang usaha di desa. Teknologi internet membuat desa tidak lagi ketinggalan dari kota. Kini desa juga memiliki banyak komoditas. Namun demikian, peluang usaha di setiap desa pastinya tidak selalu sama. Tergantung pada sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kearifan lokal yang menjadi basis di desa yang bersangkutan.

Potensi Desa dan Peluang Usaha yang Menjanjikan

1. Potensi Desa Wisata

Pengembangan desa agar potensial dan sukses menjadi desa mandiri dan sejahtera memang tidaklah mudah. Banyak faktor yang akan mempengaruhi dalam upaya mengembangkan desa tersebut, baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu upayanya adalah melalui pengembangan potensi yang ada di desa yang bersangkutan. Saat ini, yang potensi desa yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta pemerintah desa itu sendiri adalah usaha pengembangan potensi daerah berupa desa wisata.

Baca Juga: Mencari Pemimpin Desa Bertalenta untuk Wujudkan Desa Sejahtera Mandiri

Menurut Nurhayati dalam (Susilo, 2008:1) desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Unsur-unsur dari desa wisata yakni pertama, memiliki potensi wisata, seni, dan budaya khas setempat. Kedua, kemudahan aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung program desa wisata.

Ketiga, terjaminnya keamanan, ketertiban, dan kebersihan. Sementara itu, pijakan dasar dalam pengembangan desa wisata adalah pemahaman terhadap karakter dan kemampuan unsur-unsur yang ada dalam desa, antara lain lingkungan alam, sosial ekonomi, budaya masyarakat, arsitektur, struktur tata ruang dan aspek historis, termasuk indigeneus knowledge (pengetahuan dan kemampuan lokal) yang dimiliki oleh masyarakat.

Kenapa desa wisata? Memanfaatkan potensi alam yang cukup melimpah di Indonesia kini masyarakat mulai mengoptimalkan sektor pariwisata dengan membangun kawasan desa wisata. Strategi ini sengaja dibangun masyarakat untuk mengajak para wisatawan lokal maupun internasional untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam, budaya, maupun tradisi masyarakat di berbagai pelosok desa. Melalui program desa wisata diharapkan masyarakat bisa memperkenalkan tradisi dan budaya lokal kepada masyarakat luas serta mengangkat perekonomian masyarakat di sekitar desa tersebut.

Berbagai program dan paket wisata pun kini mulai ditawarkan masyarakat pedesaan untuk menjamu para wisatawan lokal maupun internasional. Misalkan saja seperti puluhan desa wisata yang terdapat di Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, dan sebagainya.

Baca Juga :