Teknologi Pemadam Kebakaran Mampu Deteksi Sumber Api

Teknologi Pemadam Kebakaran Mampu Deteksi Sumber Api

Teknologi Pemadam Kebakaran Mampu Deteksi Sumber Api

YOGYAKARTA – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan solusi untuk kebakaran yang terjadi di beberapa tempat.

Teknologi fire fighting atau lebih dikenal dengan pemadam kebakaran, mereka buat untuk membantu situasi darurat kebakaran yang sering terjadi. Teknologi ini dilengkapi dengan enam kaki untuk dapat bergerak lebih fleksibel.

Inovasi untuk melakukan riset teknologi tidak terlepas dari kegiatan mahasiswa dalam mengikuti berbagai jenis lomba bidang teknologi. Banyak di antara mahasiswa Indonesia mampu membuat prototipe teknologi demi kepentingan umum.

Baca Juga:

Peneliti Bedah Respons Imun Manusia Saat Terinfeksi Corona
Zat Senyawa Ganja Dinyakini Melemahkan Sifat Ganas Bakteri Corona

Seiring dengan perkembangan teknologi, tim pemadam kebakaran saat ini belum memiliki robot atau teknologi sejenis untuk membantu memadamkan titik api. Mereka hanya menggunakan mesin semprot air dari jarak yang cukup jauh dari titik api.

Kini, empat mahasiswa UGM menghadirkan teknologi pemadam kebakaran untuk mencari sumber api. Robot ini digunakan untuk menjangkau area tersulit yang tidak dapat dilewati manusia. “Sekarang ini kan banyak kasus kebakaran gambut di hutan, mencari titik apinya kan harus menggunakan satelit atau helikopter.

Kalau saya, inginnya robot ini dapat digunakan untuk kebakaran di hutan

,” kata Dani Setyawan, salah satu pembuat robot. Selain untuk kebakaran hutan, misi kemanusiaan juga dapat dilakukan. Salah satu contoh yang dijelaskan adalah menyelamatkan seorang bayi, yang disimulasikan dengan boneka di dalam ruangan atau gedung.

Saat melakukan penelitian, Dani dan rekan-rekannya m

enghabiskan dana sekitar Rp60 juta. Mahalnya biaya pembuatan robot karena banyaknya servo kaki dan sensor api yang dibutuhkan. Setiap kaki robot terdiri atas tiga servo dan harga setiap servo sekitar Rp1,8 juta.

“Untuk satu robot kira-kira Rp60 jutaan, yang makan biaya terbesar

untuk biaya servo atau kaki-kakinya,” tambah Dani. Robot yang diberi nama Al Fatih ini memiliki beragam sensor untuk mendeteksi kondisi lingkungan.

 

Baca Juga :